Mahasiswa Gelar Nobar dan Diskusi Film “Pesta Babi”, Soroti Isu Papua

Salatiga, 3 Mei 2026 - Mahasiswa menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi yang dilaksanakan di BLK Pergerakan, depan kampus 3 UIN Salatiga. Kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk membahas isu kolonialisme modern dan kondisi masyarakat Papua. 

Acara tersebut merupakan hasil kolaborasi delapan organisasi mahasiswa, yakni PMII Rayon Dakwah, GMNI Komisariat K3, HMI Komisariat Lafran Pane, IMM Komisariat Djazman Al-Kindi, Dema Fakultas Dakwah, HMPS KPI UIN Salatiga, dan HMPS MD UIN Salatiga. 

Naja, selaku panitia kegiatan, mengatakan bahwa pemutaran film ini dilatarbelakangi selain keinginan pribadi, tetapi juga karena tingginya antusiasme terhadap film Pesta Babi yang sebelumnya telah beberapa kali diputar di Salatiga. Menurutnya, momentum ini dimanfaatkan untuk mengajak mahasiswa berkumpul sekaligus berbagi keresahan bersama. 
“Kebetulan film ini cukup hype dan juga beberapa gelombang-gelombang juga sudah hadir di Salatiga perkiraan ada sekitar 5 gelombang yang sudah terlaksana, yang melatarbelakangi saya adalah keinginan saya pribadi pertama, tapi juga ingin menciptakan momentum bersama berkumpul bersama teman teman organisasi elemen-elemen yang ada di Fakultas Dakwah entah itu organisasi internal maupun eksternal, juga sebagai menularkan keresahan”, ujarnya.

Ia menambahkan, tujuan utama kegiatan ini adalah membuka kesadaran mahasiswa terhadap realitas yang dialami masyarakat Papua.
“Kita ingin melihat dan merasakan bersama keresahan masyarakat Papua, terutama terkait ketertindasan yang mereka alami. Harapannya, ini bisa membuka cakrawala berpikir kita apakah Indonesia sudah benar-benar merdeka dan sejahtera atau belum?,” tambahnya. 

Fin, Salah satu peserta, mengaku bahwa film tersebut memberikan dampak emosional sekaligus membuka sudut pandangnya terhadap realitas sosial yang terjadi.
“Di satu sisi kita hidup enak,, tapi di sisi lain ada masyarakat yang sangat menderita”, ujarnya.

Ia juga menyoroti dampak kerusakan lingkungan yang ditampilkan di film, seperti deforensiasi yang menyebabkan masyarakat kehilangan tempat tinggal, sumber pangan, dan mata pencaharian.
“Pendapat saya setelah nonton ini juga saya merasakan bahwasannya di sisi lain masyarakat yang terdampak kerusakan lingkungan atau deforestasi, itu sangat kelam banget khususnya masyarakat Papua itu sendiri. Kehilangan rumah, sumber pangan, dan mata pencahariannya masing-masing”, tambahnya. 

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mendapatkan pemahaman baru serta terdorong untuk menunjukkan kepedulian, salah satunya melalui donasi bagi masyarakat yang terdampak.

 

-Div.Jurnastik 



Comments

Popular posts from this blog