HMPS KPI UIN Salatiga Gelar Speak Up Forum Bahas Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS





Salatiga, Kamis 2 April 2026 - Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (HMPS KPI) UIN Salatiga menggelar kegiatan KPI Speak Up Forum di Aula PPID Fakultas Dakwah UIN Salatiga, dengan mengusung tema “Ketika Aktivis KontraS Dilumuri Air Keras” dan menghadirkan pemantik diskusi Bapak Muhammad Nur Ikhwan, M.Pd


Forum tersebut, membahas kasus penyiraman air keras terhadap Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) sekaligus Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, yang dinilai sebagai bentuk pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia. Melihat dari sudut pandang HAM, tindakan tersebut bertentangan dengan Pasal 28 UUD 1945 yang menjamin hak hidup dan rasa aman bagi setiap warga negara, serta hak atas keadilan. Pemantik juga menyoroti kecenderungan penyelesaian masalah yang tidak tuntas dan justru beralih ke isu lain.


Dari perspektif kekerasan dan intimidasi, penyiraman air keras dinilai sebagai tindakan yang terencana dan menjadi alat untuk menekan serta membungkam kritik. Intimidasi tidak hanya menyasar individu, tetapi juga dapat meluas ke keluarga dan lingkungan terdekat. Hal ini menunjukkan bahwa kekerasan kerap digunakan sebagai cara untuk meredam suara kritis di ruang publik.


Sementara itu, dari sisi sosial dan politik, kasus ini dipandang sebagai ancaman terhadap demokrasi. Aktivis dan penegak hukum disebut sebagai pilar penting dalam menjaga demokrasi, sehingga kekerasan terhadap mereka dapat melemahkan sistem hukum. Pemateri juga menyinggung pentingnya sinergi antar elemen negara, serta fenomena rendahnya kepercayaan publik dan sikap individualisme yang dapat memperburuk kondisi demokrasi.


Dampak jangka panjang dari kasus pembungkaman dengan air keras juga menjadi perhatian, di antaranya menurunnya partisipasi masyarakat, munculnya trauma berkepanjangan, serta potensi disabilitas pada korban. Kondisi ini dinilai dapat menghambat keterlibatan publik dalam menyuarakan aspirasi.


Salah satu peserta, Devi, mengaku kegiatan ini membuatnya lebih sadar terhadap berbagai persoalan di Indonesia, khususnya kasus yang belum tuntas diusut. Ia juga menilai diskusi terbuka seperti ini menarik karena tidak semua dosen bersedia membahas isu sensitif bersama mahasiswa. "Kesan-kesan yang aku dapetin setelah mengikuti Speak Up Forum ini, aku jadi lebih aware tentang masalah-masalah yang terjadi di Indonesia. Apalagi dengan kasus-kasus yg ternyata masih banyak sekali yang belum diusut tuntas sampai ke akar-akarnya. karena kebanyakan hanya berhenti di pelaku saja,” ujarnya.


Peserta lain, Mila dan Siti Istiqomah, menilai forum ini memberikan pengalaman dan dampak positif bagi mahasiswa. Mereka berharap kegiatan diskusi seperti Speak Up Forum dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai ruang belajar dan bertukar gagasan secara terbuka.



Div Jurnalistik

Comments

Popular posts from this blog